Kisah Pilu Warga Keturunan Indonesia yang Pernah Mengalami Diskriminasi

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang

TRIBUNNEWS.COM - Ini adalah kisah korban perang dunia kedua di Indonesia. Seorang ibu Indonesia, dengan ayah tentara Jepang. Ayah kembali ke Jepang meninggalkan isteri dan anak, lalu mereka pindah ke Belanda menjadi warga negara Belanda, dan kini di Jepang mengeluh dulu di Indonesia merasa dianiaya dan di diskriminasi.

Demikianlah tulis koran Nagasaki Shimbun, Jumat (25/10/2013) dan dikutip Tribunnews.com. Tiga orang dari ibu Indonesia dan ayah Jepang tetapi telah jadi warga negara Belanda itu, hari ini ke Taman Perdamaian di Nagasaki, Jepang atas undangan Kementerian Luar Negeri Jepang, demikian tulis koran nNgasaki tersebut.

Tak lama setelah perang dunia kedua, mereka (ibu dan anak) akhirnya hijrah ke Belanda. tetapi ayahnya pulang ke Jepang. Mereka kini telah menjadi warga negara Belanda. Saat ini sampai selama 10 hari sampai dengan 30 Oktober 2013 berada di Jepang.

Mereka mengunjungi  Hirado di Nagasaki, berinteraksi dengan warga kota mulai siang sampai malam, berbicara mengenai diskriminasi yang telah dirasakannya serta berbicara soal perdamaian. Mereka juga reuni dengan keluarga ayahnya yang orang Jepang.

Mereka datang untuk menghadiri upacara peringatan tahanan perang Belanda yang diselenggarakan 22 Oktober di kota Mizumaki, Fukuoka

Pertemuan pertukaran internasional oleh organisasi HIRA yang diketuai Takashi Inoue diikuti oleh sekitar 20 orang berpartisipasi di Hirado .

Setelah kemerdekaan Indonesia (Red. ditulis koran Nagasaki tahun 1949), tiga orang tersebut mengatakan pindah ke Belanda bersama sekitar 800 orang anak Indonesia yang ayahnya orang Jepang.
 
Mereka mengakui setelah ditinggalkan ayahnya pulang ke Jepang, di Indonesia mengalami penganiayaan dan diskriminasi.

Satu dari tiga orang itu, Alfred Leonardo Awhenstein (kini 68 tahun) mengatakan, ayahnya tentara kekaisaran Jepang, ibu orang Indonesia, lalu ayah mertuanya menjadi tawanan Tentara Kekaisaran Jepang. Lalu dibawa ke Burma sampai akhir perang untuk menjadi pekerja rodi.

Saat bertemu ayah mertua Alfred cukup tersentuh juga dan mengatakan kedatangannya sebagai upaya mengakhiri teka-teki kehidupannya yang hilang selama ini terpisah dari ayahnya.

"Perang merupakan hal buruk, olehkarena itu perlu kedamaian kita bawa selalu bagi manusia di dunia ini."

Baca Juga:

Kisah Pilu Warga Keturunan Indonesia yang Pernah Mengalami Diskriminasi

Terjebak Kemacetan Parah, Banyak Warga Jakarta Pilih Jalan Kaki

Singapore Airlines Dukung Jakarta Marathon 2013


http://id.berita.yahoo.com/kisah-pilu-warga-keturunan-indonesia-yang-pernah-mengalami-154237051.html
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger