Anak Tapol 1965 Bisa Hidup Damai di Banyumas  

TEMPO.CO, Purwokerto - Keluarga bekas tahanan politik 1965 di Banyumas, Jawa Tengah, bisa melakukan kegiatan dengan aman. Bahkan mereka membentuk paguyuban Sekretariat Bersama 65 atau Sekber 65. »Kami sering mengadakan pertemuan, sejauh ini aman-aman saja," kata Ketua Sekber 65, Slamet, Selasa, 29 Oktober 2013. Waktu pertemuan biasanya dalam selapanan atau 40 harian pada pasaran Rabu Kliwon. »Tempatnya berpindah-pindah di rumah anggota."

Saat ini ada 30 anggota Sekber 65. Mereka anggota keluarga bekas tahanan politik 1965, beberapa di antaranya bekas tahanan di Pulau Buru. Saat berkumpul, suasananya seperti pertemuan rukun tetangga. »Ada tegur sapa, silaturahmi, dan mengocok arisan," ujarnya. Kadang acara juga diikuti dosen atau mahasiswa yang ingin tahun cerita bekas tapol atau simpati terhadap perjuangan mereka dalam menuntut hak sipil eks tapol. »Kita berkumpul biasa, sekaligus membahas kabar. Tapi intinya kami berusaha untuk memperjuangkan hak-hak sipil eks tapol." Hak sipil eks tapol yang mereka tuntut seperti rehabilitasi nama dan hak penisun bagi mereka yang dahulunya adalah pegawai negeri.

Menurut dia, insiden pembubaran dan penganiayaan keluarga bekas tapol 1965 di Yogyakarta itu tak akan berdampak ke Banyumas. »Saat kita menggelar pertemuan, bahkan selalu dihadiri oleh dua orang dari Kesbangpolinmas Banyumas untuk memantau," ujar dia. Kalau ada acara di luar Purwokerto, misalnya ke Cilacap juga difasilitasi. »Tidak ada kekhawatiran bakal ada tindakan penculikan, penganiayaan."

Dia membenarkan empat korban pembubaran acara di Padepokan Santi Dharma itu, berasal dari Banyumas. »Mereka tidak koordinasi berangkat ikut acara di Yogyakarta," kata Slamet. Menurut dia, tindakan kekerasan itu sudah melampaui batas. "Kami akan menuntut pihak yang melakukan pembubaran acara tersebut," katanya.

Wakil Ketua Aliansi untuk Kebenaran, Keadilan, dan Rekonsiliasi (AKKAR) Banyumas, Ahmad Sabiq, mengatakan Banyumas dan Cilacap merupakan salah satu wilayah dengan jumlah bekas tapol dan napol 1965 yang banyak. Dia memperkirakan jumlahnya ribuan, tersebar hingga pelosok Banyumas. »Tetapi di Banyumas warganya selalu menghargai perbedaan," ucapnya.

ARIS ANDRIANTO


http://id.berita.yahoo.com/anak-tapol-1965-bisa-hidup-damai-di-banyumas-120043563.html
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger